SEKILAS TENTANG TEORI BELAJAR
PENDAHULUAN
Titik fokus yang menjadi
pusat perhatian suatu teori
selalu ada. Ada yang lebih mementingkan
proses belajar, ada yang lebih
mementingkan sistem informasi yang diolah dalam
proses belajar, dan lain-lain. Namun, faktor-faktor lain di luar titik fokus itu juga selalu diperlukan untuk
menjelaskan seluruh persoalan belajar yang dibahas. Konsekuensi lain, taksonomi (penggolongan)
teori-teori tentang
belajar seringkali
bervariasi antara penulis satu dengan
lainnya. Ada yang mengelompokkan
teori belajar menurut berbagai aliran
psikologi yang mempengaruhi teoriteori tersebut. Ada pula yang mengelompokkannya menurut titik fokus dari teori-teori
tersebut. Bahkan ada yang menggolong-golongkan teori belajar menurut
nama-nama ahli yang mengembangkan
teori-teori itu. Tak jadi soal benar taksonomi
mana yang kita ikuti. Yang penting kita menyadari bahwa sebuah taksonomi adalah tak lebih dari suatu
usaha untuk menyederhanakan permasalahan
serta mempermudah pembahasannya.
Sekedar untuk mempermudah
pemahaman kita, di bagian akhir dari bab ini akan
disajikan suatu ringkasan isi dari
pembahasan teori belajar yang akan kita
jelaskan berikut ini. Dalam ringkasan
tersebut juga diberikan gambaran singkat
tentang aplikasi setiap teori belajar di dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Dalam hal ini, secara
umum, semua teori belajar dapat kita kelompokkan menjadi empat golongan atau
aliran, yaitu aliran tingkah
laku, kognitif, humanistik, dan sibernetik.
Aliran tingkah laku menekankan pada "hasil" dari proses belajar. Aliran
kognitif menekankan pada "proses" belajar. Aliran
humanis menekankan pada "isi" atau apa yang dipelajari dan aliran sibemetik menekankan pada "sistem
informasi" yang dipelajari. Kita kaji keempat teori ini satu per satu.
PEMBAHASAN
A. Aliran
Tingkah Laku
Menurut
aliran tingkah laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah
laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau lebih tepat: perubahan yang dialami mahasiswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai
hasil interaksi antara stimulus dan respon. Meskipun semua
penganut aliran ini setuju dengan premis
dasar ini, namun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal penting. Berikut ini kita kaji hasil karya
dari beberapa penganut aliran ini yang paling penting,
yaitu Thomdike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner.
1. Thorndike
Menurut Thomdike (salah satu
pendiri aliran tingkah laku), belajar
adalah proses interaksi antara Stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan,
atau gerakan) dan Respon (yang juga
bisa berbentuk pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya, menurut
Thomdike, perubahan tingkah laku itu
boleh berwujud sesuatu yang konkret
(dapat diamati), atau yang non-konkret
(tidak dapat diamati). Meskipun Thomdike tidak menjelaskan bagaimana caranya
mengukur berbagai tingkah laku yang non-konkret
itu
(pengukuran adalah satu hal yang menjadi obsesi semua
penganut aliran tingkah laku), tetapi teori Thomdike ini telah banyak memberikan inspirasi kepada pakar lain yang datang sesudahnya.
Teori Thomdike ini juga
disebut sebagai aliran "Koneksionis" (Connectionism).
2. Watson
Namun menurut
Watson, pelopor lain yang datang sesudah Thomdike, stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang "dapat
diamati" (observable). Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin
terjadi dalam
belajar dan menganggapnya sebagai
faktor yang tak perlu
diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak
mahasiswa tidak penting. Semua itu penting. Tapi, faktor-faktor tersebut tidak
dapat menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Hanya dengan asumsi demikianlah, kata Watson, kita dapat meramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada mahasiswa. Hanya
dengan demikianlah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik. Kita lihat di sini, penganut aliran tingkah laku
lebih senang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak dapat diukur, meskipun mereka tetap
mengakui bahwa semua hal itu penting. Teori Watson ini juga disebut
sebagai aliran Tingkah Laku (Behaviorism). Tiga pakar lain adalah Clark Hull, Edwin Guthrie, dan B. F. Skinner. Seperti kedua pakar terdahulu,
ketiga orang yang terakhir
ini juga menggunakan variabel Stimulus-Respon untuk menjelaskan teori-teori
mereka. Namun, meskipun ketiga pakar ini mendapat julukan yang sama, yaitu pendiri Aliran Tingkah Laku Baru (Neo Behaviorist), mereka
berbeda satu sama lain dalam
beberapa hal prinsipil.
3. Clark Hull
Clark Hull sangat terpengaruh oleh teori
evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti dalam teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama
untuk menjaga kelangsungan hidup. Karena itu, dalam teori Hull, kebutuhan biologis dan pemuasan
kebutuhan biologis menempati posisi
sentral. Stimulus hampir
selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini, meskipun respon
mungkin bermacam-macam
bentuknya. Teori ini, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya, temyata tidak banyak digunakan dalam dunia praktis,
meskipun sering digunakan dalam berbagai eksperimen
dalam laboratorium.
4. Edwin Guthrie
Menurut Edwin Guthrie, stimulus tidak harus
berbentuk kebutuhan biologis. Hal penting dalam teori Guthrie
adalah, bahwa
hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara. Karena itu, diperlukan
pemberian stimulus
yang sering agar hubungan itu menjadi
lebih langgeng. Selain itu, suatu respon
akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) bila
respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
Itulah sebabnya
mengapa
kebiasaan merokok (sekedar contoh), sulit
ditinggalkan. Seringkali terjadi, perbuatan merokok tidak hanya berhubungan dengan satu macam stimulus (misalnya kenikmatan merokok), tetapi juga dengan stimulus-stimulus lain seperti minum kopi, berkumpul dengan teman-teman,
ingin nampak gagah, dan lain-lain. Maka, setiap kali salah satu (atau lebih) stimulus ini muncul, maka segera pula keinginan merokok
itu timbul. Guthrie juga
percaya bahwa "hukuman" memegang peran penting dalam proses belajar. Menurut Guthrie, suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu merubah
kebiasaan seseorang. Kelak, faktor hukuman ini tak lagi dominan dalam teori-teori tingkah laku, terutama setelah Skinner makin
mempopulerkan ide tentang "penguat" (reinforcement).
5. Skinner
Skinner, yang datang kemudian, mempunyai
pendapat lain lagi, yang temyata mampu mengalahkan pamor teori-teori Hull dan Guthrie.
Hal ini mungkin karena kemampuan Skinner dalam "menyederhanakan"
kerumitan teorinya serta menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam teorinya itu. Menurut Skinner, deskripsi hubungan antara
stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku
(dalam hubungannya dengan lingkungan)
menurut versi Watson tersebut di atas adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respon yang diberikan oleh mahasiswa tidaklah sesederhana itu, sebab
pada dasamya setiap stimulus yang diberikan
berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi
ini akhimya mempengaruhi respon yang dihasilkan tersebut. Sedangkan respon yang diberikan ini juga menghasilkan berbagai konsekuensi,
yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah
laku mahasiswa. Karena itu, untuk memahami tingkah laku mahasiswa secara tuntas, kita harus
memahami hubungan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya,
memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respon tersebut (lihat
Bell-Gredler, 1986).
Skinner juga menjelaskan bahwa
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk
menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat
segala sesuatunya menjadi bertambah
rumit, sebab "alat" itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa "seorang
mahasiswa berprestasi buruk sebab mahasiswa ini mengalami frustrasi" akan menuntut kita untuk menjelaskan "apa
itu frustrasi". Dan penjelasan tentang frustrasi ini
besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain, begitu seterusnya. Dari semua
pendukung teori tingkah laku, mungkin teori Skinner-lah
yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar. Beberapa program pembelajaran seperti Teaching Machine, Mathematics, atau program-program lain yang memakai konsep stimulus,
respon, dan faktor "penguat" (reinforcement),
adalah
contoh-contoh program yang memanfaatkan teori Skinner ini.
6. Kritik Terhadap Teori
Tingkah Laku
Namun, sudah terang bahwa teori tingkah laku ini tidak bebas dari kritik. Teori tingkah laku ini dikritik
karena sering
tidak mampu menjelaskan
situasi belajar yang kompleks, sebab banyak
hal di dunia pendidikan yang tidak dapat diubah menjadi sekedar
hubungan stimulus dan respon. Kita ambil contoh, suatu saat, seorang mahasiswa mau belajar giat setelah diberi stimulus tertentu: Tetapi karena satu dan
lain hal, mahasiswa tersebut tiba-tiba tidak mau belajar lagi, padahal kepadanya sudah
diberikan stimulus yang sama atau yang lebih baik dari itu. Di sinilah persoalannya. Ternyata teori
tingkah laku ini dianggap tidak mampu menjelaskan
alasan-alasan yang mengacaukan
hubungan antara stimulus dan
respon tersebut.
Tentu saja kita dapat mengganti stimulus dengan stimulus lain sampai kita mendapatkan respon yang kita
inginkan. Tetapi kita tahu hal ini belum menjawab pertanyaan yang sebenamya. Di samping
itu, teori belajar
ini dianggap cenderung mengarahkan mahasiswa untuk berpikir linier,
konvergen, dan tidak kreatif. Dengan
prosesnya yang disebut "pembentukan" (shaping), misalnya, mahasiswa digiring untuk sampai ke suatu target tertentu, padahal banyak hal dalam hidup ini yang tidak sesederhana itu. Skinner dan ahli-ahli lain penyokong
teori ini memang tidak menganjurkan adanya "hukuman" digunakan dalarn proses belajar. Tetapi apa yang mereka sebut
"penguat negatif" (negative reinforcement) cenderung membatasi
keleluasaan mahasiswa untuk berimajinasi dan
berpikir.
Kita ingat
kembali, bahwa menurut Guthrie, "hukuman" memegang
peranan penting dalam proses belajar. Skinner tidak
percaya pada asumsi Guthrie ini karena tiga alasan. Pertama, pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. Kedua, dampak psikologis yang buruk mungkin
akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila
hukuman berlangsung lama. Ketiga, hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari "hukuman". Dengan kata lain, "hukuman" dapat mendorong si
terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala
lebih buruk
daripada kesalahan pertama yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Ini tidak sama dengan hukuman.
Ketidaksamaan tersebut adalah, bila
hukuman harus "diberikan" (sebagai stimulus) agar respon yang timbul
berbeda dari biasanya ada, sedangkan "penguat negatif" (sebagai
stimulus) harus "dikurangi" agar respon yang sama menjadi
semakin kuat. Misalnya, seorang mahasiswa perlu "dihukum"
untuk suatu kesalahan yang dibuatnya
(teori Guthrie).
Jika mahasiswa masih bandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi, jika sesuatu yang tidak mengenakkan si mahasiswa itu
dikurangi (bukan malah ditambah), dan pengurangan
ini mendorong mahasiswa itu untuk
memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut "penguat
negatif" (teori Skinner).
Lawan dari penguat negatif adalah "penguat positif" (positive reinforcement). Keduanya bertujuan memperkuat respon. Namun bila penguat positif harus
"ditambah", maka penguat negatif harus "dikurang" agar memperkuat respon.
B. Aliran Kognitif
Teori
kognitif, sebaliknya, lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar
itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar
tidak sekedar melibatkan hubungan antara
stimulus dan respon. Lebih dari
itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat erat berhubungan dengan teori sibemetik. Pada masa-masa awal mulai
diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan
bagaimana mahasiswa mengolah stimulus dan bagaimana mahasiswa tersebut dapat sampai ke respon tertentu (pengaruh aliran tingkah
laku masih terlihat di sini). Namun lambat laun, perhatian tersebut mulai bergeser. Saat ini, perhatian mereka terpusat
pada proses bagaimana suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh mahasiswa.
Menurut teori ini, ilmu
pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu
melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan
lingkungan. Proses ini tidak berjalan
terpatah-patah, terpisah-pisah dan melalui
proses yang mengalir,
bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seseorang
yang memainkan
musik, ia tidak memahami not-not balok yang terpampang di partitur sebagai informasi yang saling lepas berdiri sendiri, tapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk ke pikiran dan perasaannya. Seperti juga ketika Anda
membaca tulisan ini, bukan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah yang Anda serap dan kunyah dalam pikiran, tetapi
adalah kata, kalimat, paragraf yang kesemuanya itu seolah jadi satu, mengalir, menyerbu secara total bersamaan. Dalam praktek, teori ini
antara lain terwujud dalam
"tahap-tahap perkembangan" yang diusulkan oleh Jean Piaget, "belajar
bermakna"-nya
Ausubel, dan "belajar penemuan secara bebas" (free discovery learning) oleh Jerome
Bruner.
1. Piaget
Menurut Jean Piaget (salah satu penganut aliran kognitif yang kuat), proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi,
akomodasi, dan equilibrasi
(penyeimbangan). Proses
asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur
kognitif yang sudah ada dalam benak
mahasiswa. Proses akomodasi adalah
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Proses equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan
akomodasi.
Katakanlah
seorang mahasiswa yang sudah
mengetahui prinsip
penjumlahan. Jika dosennya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses
pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada di benak mahasiswa) dengan prinsip perkalian
(sebagai informasi baru), inilah yang disebut proses asimilasi. Jika mahasiswa ini diberi
sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, yang dalam hal ini berarti pemakaian (aplikasi) prinsip
perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar mahasiswa tersebut dapat terus mengembangkan dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam
dirinya, diperlukan proses penyeimbangan. Proses inilah yang disebut equilibrasi
--proses
penyeimbangan antara "dunia luar" dan "dunia dalam".- Tanpa proses ini,
perkembangan kognitif seseorang akan
tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized). Dalam hal ini, dua orang yang mempunyai jumlah informasi yang sama di otaknya mungkin mempunyai kemampuan
equilibrasi
yang berbeda. Seseorang dengan
kemampuan equilibrasi
yang baik akan mampu "menata"
berbagai informasi ini dalam urutan yang baik, jemih, logis. Sedangkan
rekannya yang tidak
memiliki kemampuan equilibrasi sebaik itu akan cenderung
menyimpan semua informasi yang ada
secara kurang teratur, karena itu orang ini juga cenderung
mempunyai alur berpikir ruwet, tidak logis, berbelit-belit.
Menurut Piaget, proses belajar
harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui mahasiswa, yang dalam hal
ini Piaget membaginya menjadi empat tahap, yaitu tahap Sensorimotor (ketika
anak berumur 1,5 sampai 2 tahun), tahap Praoperasional (2/3 sampai 7/8 tahun),
tahap Operasional Konkret (7/8 sampai 12/14 tahun), dan tahap Operasional Formal (14 tahun atau lebih). Proses belajar yang dialami seorang anak pada
tahap sensorimotor tentu
berbeda dengan proses belajar yang dialami seorang anak yang sudah
mencapai
tahap kedua (praoperasional), dan berbeda
pula dengan apa yang dialami anak
lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif
seseorang, semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara
berpikimya. Dengan demikian, dosen seyogyanya memahami
tahap-tahap perkembangan mahasiswa, serta memberikan materi pelajaran dalam jumlah dan jenis
yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Dosen yang mengajar
tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan
cenderung menyulitkan mahasiswanya. Misalnya saja, mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang
Pancasila kepada sekelompok mahasiswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk j`mengkonkretkan" konsep-konsep tersebut,
tidak hanya akan percuma, tetapi justru
akan lebih membingungkan anak didik.
2. Ausubel
Menurut
Ausubel, mahasiswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut "pengatur kemajuan (belajar)"
(Advance Organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan
tepat kepada mahasiswa. Pengatur kemajuan belajar
adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi
pelajaran yang akan diajarkan kepada
mahasiswa. Ausubel percaya bahwa "advance organizers" dapat memberikan tiga macam
manfaat, yakni: 1.) dapat menyediakan suatu kerangka
konseptual untuk materi pelajaran yang akan dipelajari oleh mahasiswa; 2.) dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan
antara apa yang sedang
dipelajari mahasiswa "saat ini" dengan apa yang "akan" dipelajari; sedemikian rupa sehingga mampu membantu
mahasiswa belajar
secara lebih mudah.
Untuk itu, pengetahuan dosen terhadap isi
mata pelajaran harus sangat baik. Hanya dengan demikian seorang dosen akan mampu menemukan informasi, yang menurut Ausubel "sangat
abstrak, umum, dan inklusif", yang mewadahi apa yang akan diajarkan itu. Selain
itu, logika berpikir dosen juga dituntut
sebaik mungkin. Tanpa memiliki logika
berpikir yang baik, maka
dosen akan kesulitan memilah-milah materi pelajaran, merumus-kannya
dalam rumusan
yang singkat dan padat, serta mendosentkan materi untuk
memahami bahan
demi materi itu
ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami.
3. Brunner
Brunner
mengusulkan teorinya yang disebut
free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika dosen
memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan suatu aturan
(termasuk konsep,
teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh
yang menggambarkan
(mewakili) aturan yang menjadi
sumbernya. Dengan kata lain, mahasiswa dibimbing secara induktif untuk
memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep "kejujuran",
misalnya, mahasiswa tidak semata-mata "menghafal"
definisi kata "kejujuran" tersebut,
melainkan dengan mempelajari contoh-contoh
konkret tentang kejujuran,
dan dari contoh-contoh itulah mahasiswa dibimbing untuk mendefinisikan kata
"kejujuran". Lawan dari pendekatan ini disebut "belajar ekspositori" (belajar dengan cara menjelaskan). Dalam hal ini,
mahasiswa disodori sebuah informasi
umum dan diminta untuk
menjelaskan informasi tersebut
melalui contoh-contoh khusus dan konkret.
Dalam contoh di atas, maka mahasiswa pertama-tama diberi definisi tentang
"kejujuran", dan dari definisi
itulah mahasiswa diminta untuk mencari contohcontoh konkret yang dapat menggambarkan makna kata tersebut.
Proses belajar ini jelas berjalan secara deduktif.
4. Kritik Terhadap Teori Kognitif
Teori kognitif, terutama teori yang dikembangkan oleh Piaget, sering dikritik karena sukar dipraktekkan
(terutama di tingkat-tingkat lanjut). Selain itu, beberapa konsep tertentu (seperti intelejensia, belajar, atau
pengetahuan) yang mendasari
teori ini sukar
dipahami, dan pemahaman itu sendiri pun masih belum
tuntas.
C. Aliran Humanistik
Teori jenis ketiga adalah teori humanistik. Bagi penganut teori ini, proses belajar
harus berhulu dan bermuara pada
manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya "isi" dari
proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar
dalam bentuknya yang
paling ideal daripada belajar seperti apa adanya, seperti
apa yang biasa
kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik. Teori
apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk
"memanusiakan manusia" (mencapai aktualisasi diri, dan sebagainya itu) dapat tercapai. Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud
dalam pendekatan yang diusulkan oleh ausubel ang disebut
"belajar
bermakna" atau Meaningful Learning. Sebagai catatan,
teori Ausubel ini juga dimasukkan ke dalam aliran Kognitif. Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl
dalam bentuk Taksonomi Bloom yang terkenal itu.
Selain itu, empat pakar lain yang juga
termasuk ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey dan Mumford, serta habermas.
1. Bloom dan Krathwohl
Dalam hal
ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh mahasiswa, yang tercakup dalam tiga kawasan, yaitu:
a. Kognitif, yang terdiri
dari enam tingkatan:
- Pengetahuan (mengingat, menghafal);
- Pemahaman (menginterpretasikan);
- Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah);
- Analisis (menjabarkan suatu konsep);
- Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
- Evaluasi (membandingkan
nilai-nilai, dan sebagainya).
b. Psikomotor, yang terdiri dari lima tingkatan:
- Peniruan (menirukan gerak);
- Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak);
- Ketepatan (melakukan gerak
dengan benar);
- Perangkaian (melakukan beberapa
gerakan sekaligus dengan benar);
- Naturalisasi (melakukan gerak
secara wajar).
c. Afektif, yang terdiri dari lima tingkatan:
- Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu);
- Merespon (aktif
berpartisipasi);
- Penghargaan (menerima
nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
- Pengorganisasian (menghubung-hubungkan
nilai-nilai yang dipercayai);
- Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Taksonomi Bloom, seperti
yang telah kita ketahui, berhasil
memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih
praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk
memformulasikan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional,
serta dapat diukur. Dari beberapa taksonomi belajar, mungkin taksonomi Bloom inilah yang paling populer (setidaknya di Indonesia).
Selain itu, teori Bloom ini juga banyak dijadikan pedoman untuk
membuat butir-butir soal ujian, bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.
2. Kolb
Sementara
itu, seorang ahli lain yang bernama Kolb
membagi tahapan belajar menjadi empat, yaitu:
1. Pengalaman Konkrit
2. Pengamatan aktif dan reflektif
3. Konseptualisasi
4. Eksperimentasi
aktif, ide, dan metode.
Pada tahap
paling dini dalam proses belajar, seorang mahasiswa hanya sekedar mampu
ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang
hakekat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa
suatu kejadian harus terjadi seperti itu. Inilah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar. Pada
tahap kedua, mahasiswa tersebut lambat laun mampu
mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai
berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang
lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan
reflektif. Pada tahap ketiga, mahasiswa mulai belajar
untuk membuat abstraksi atau "teori" tentang sesuatu hat yang pernah diamatinya. Pada tahap ini,
mahasiswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum (generalisasi)
dari berbagai contoh kejadian yang meskipun
nampak berbeda-beda tetapi mempunyai landasan aturan yang sama. Pada tahap terakhir
(eksperimentasi aktif), mahasiswa sudah
mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika,
misalnya, mahasiswa tidak banyak memahami "asal-usul" sebuah rumus,
tetapi ia mampu
memakai rumus untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temukan sebelumnya.
Menurut Kolb, siklus belajar
semacam itu terjadi secara berkesinambungan, dan berlangsung di luar kesadaran
si pelajar. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya kita mampu membuat
garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya,
namun dalam praktek peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali
terjadi begitu saja, sulit kita tentukan kapan beralihnya.
3. Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford membuat penggolongan
mahasiswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe mahasiswa, yakni aktivis, reflektor,teoris,
dan pragmatis. Mahasiswa tipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cenderung
berpikiran terbuka dan mudah diajak
berdialog. Namun mahasiswa semacam ini biasanya kurang skeptis terhadap
sesuatu. Ini kadangkala identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka
menyukai metode yang mampu
mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau
problem solving. Tetapi mereka cepat
merasa bosan
dengan hal-hal yang memerlukan waktu lama dalam implementasi. Mahasiswa tipe
reflektor, sebaliknya, cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan,
mahasiswa tipe ini cenderung konservatif, dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara
cermat baik-buruk suatu keputusan. Mahasiswa tipe teoris biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka biasanya juga sangat
skeptis, dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif. Mahasiswa tipe pragmatis
menaruh perhatian besar pada aspek-aspek
praktis dari segala hal. Teori memang penting, kata mereka. Namun bila
teori tidak bisa dipraktekkan, untuk apa? Mereka tidak suka bertele-tele
membahas aspek teoritisfilosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekkan.
4. Habermas
Habermas percaya bahwa belajar sangat
dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama
manusia. Dengan asumsi ini, dia membagi tipe belajar
menjadi tiga macam, yaitu:
1. belajar teknis (technical learning);
2.
belajar praktis (practical learning);
3. belajar emansipatoris (emancipatory learning).
Dalam "belajar teknis",
mahasiswa belajar bagaimana
berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka
berusaha menguasai dan mengelola
alam dengan cara mempelajari keterampilan dan
pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu. Dalam "belajar
praktis", mahasiswa juga belajar berinteraksi,
tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara
mahasiswa dengan orang-orang di sekelilingnya. Pada tahap ini,
pemahaman mahasiswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu
pemahaman yang kering
dan terlepas kaitannnya dengan manusia. Tetapi pemahaman terhadap alam
justru relevan jika dan hanya jika
berkaitan dengan kepentingan manusia. Sedangkan
dalam belajar emansipatoris,
mahasiswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin
tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan.
Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi
kultural dianggap tahap belajar yang paling tinggi,
sebab transformasi kultural dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.
5. Kritik Terhadap Teori
Humanistik
Teori
humanistik sering dikritik karena sifatnya yang terlalu deskriptif (meskipun semua teori belajar
sebenarnya bersifat deskriptif;
lain dengan
teori pembelajaran, atau disebut juga teori instruksional, yang lebih bersifat preskriptif).
Kelemahan lain adalah
sukarnya menterjemahkan teori ini ke langkah-langkah yang lebih praktis dan konkrit. Tapi, karena sifatnya yang deskriptif itulah
maka teori ini seolah memberi arah proses belajar. Semua
tujuan pehdidikan bersifat
ideal, dan teori humanistik inilah yang menjelaskan
bagaimana tujuan ideal itu
seharusnya.
Seperti
teori-teori belajar yang
lain, teori humanistik akan sangat membantu kita
memahami proses belajar serta melakukan proses belajar dalam dimensi yang lebih luas,
jika kita mampu menempatkannya pada konteks yang tepat. Kalau pun teori ini sukar diterjemahkan ke
dalam langkahlangkah praktis proses belajar, namun
ide-ide, konsepkonsep, dan taksonomi-taksonomi yang dibahas
dalam teori ini telah membantu membuka mata kita untuk lebih memahami
hakikat jiwa manusia. Dan ini
pada gilirannya akan membantu kita menentukan strategi belajar
yang tepat
secara lebih sadar dan terarah,
dan tidak semata-mata tergantung pada intuisi kita.
D. Aliran Sibernatik
Teori belajar jenis keempat,
mungkin yang paling baru dari
semua teori belajar yang kita kenal,, teori belajar ini adalah
teori sibernetik. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini,
belajar adalah pengolahan informasi. Sekilas,
teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yang mementingkan
proses. Proses memang penting dalam teori sibernetik. Namun, yang lebih penting lagi adalah "sistem
informasi" yang diproses itu. Informasi inilah yang akan menentukan proses. Asumsi lain dari teori sibernetik ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajar pun
yang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua mahasiswa. Sebuah
informasi mungkin akan dipelajari seorang
mahasiswa dengan satu macam proses belajar,
dan informasi yang sama mungkin akan
dipelajari mahasiswa lain melalui proses belajar yang berbeda.
Dalam bentuknya yang lebih praktis, teori ini misalnya telah
dikembangkan oleh Landa (dalam pendekatan yang disebut algoritmik dan heuristik), Pask dan Scott (dengan pembagian mahasiswa tipe menyeluruh
atau wholist, dan tipe serial atau serialist), atau pendekatan-pendekatan lain yang berorientasi pada pengolahan
informasi.
1. Landa
Menurut Landa, ada
dua macam proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses
berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu. Kedua adalah cara
berpikir heuristik, yakni cara
berpikir divergen, menuju ke beberapa target sekaligus. Proses belajar akan
berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari itu atau masalah yang hendak dipecahkan (atau dalam istilah yang lebih teknis: sistem informasi yang hendak dipelajari) diketahui ciri-cirinya. Satu hal lebih tepat disajikan dalam urutan teratur, linier,
sekuensial, satu hal lain lebih tepat bila disajikan dalam bentuk
"terbuka" dan memberi keleluasaan kepada mahasiswa untuk berimajinasi
dan berpikir. Misalnya, agar mahasiswa mampu memahami sebuah rumus matematika, mungkin
akan lebih efektif jika presentasi informasi
tentang rumus ini disajikan secara algoritmik.
Alasannya adalah, sebuah rumus matematika biasanya mengikuti urutan tahap
demi tahap yang sudah teratur dan mengarah ke satu target tertentu. Namun, untuk memahami makna
suatu konsep yang luas dan banyak memiliki interpretasi
(misalnya konsep "kemerdekaan"), maka akan lebih baik jika proses berpikir mahasiswa
dibimbing ke arah yang "menyebar" (heuristik),
dengan harapan pemahaman mereka
terhadap konsep itu tidak tunggal, monoton, dogmatis, linier.
2. Pask dan Scott
Pendekatan
serialis yang diusulkan oleh Pask dan Scott itu sama
dengan pendekatan algoritmik. Namun, cara
berpikir
"menyeluruh" (Wholist) tidak sama dengan heuristik.
Cara berpikir menyeluruh adalah berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke
"gambaran lengkap" sebuah sistem infomlasi. Ibarat
melihat lukisan, bukan detildetil yang kita amati lebih dahulu, tapi seluruh lukisan itu sekaligus, baru sesudah
itu ke bagian-bagian yang lebih kecil.
Pendekatan yang berorientasi
pada pengelolaan informasi menekankan beberapa hal seperti "ingatan jangka pendek"
(short term memory), "ingatan jangka panjang" (long term memory), dan sebagainya, yang berhubungan dengan apa yang terjadi dalam otak kita dalam proses pengolahan
informasi. Kita lihat
pengaruh aliran neurobiologis sangat terasa di sini. Namun, menurut teori sibernetik ini, agar proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang perlu dipahami, tetapi juga
lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itu pun perlu
diketahui.
3. Kritik Terhadap Teori
Sibernetik
Teori sibernetik dikritik, sebab tidak membahas
proses belajar secara langsung sehingga hal ini menyulitkan penerapannya. Karena alasan ini pula, maka kita
mendapat kesulitan untuk menggolongkan, apakah teori sibernetik
ini lebih dekat ke teori
konformis, atau ke teori liberal. Jika teori
humanis lebih dekat ke dunia filsafat, teori sibernetik ini lebih dekat ke psikologi dan'informasi. Selain itu, pemahaman kita
terhadap mekanisme kerja otak yang masih terbatas mengakibatkan pengetahuan kita
tentang bagaimana informasi itu diolah juga menjadi sangat
terbatas. Karena alasan ini pula, maka banyak pakar mendapat ilham untuk (makin)
mengembangkan teori kognitif. Jika teori sibernetik lebih tertarik kepada kerja
otak. Teori kognitif lebih tertarik kepada
hasil kerja otak itu. Seperti kata
seorang pakar kognitif: "untuk menemukan perhitungan akar 437, misalnya, apakah kita perlu tahu lebih dahulu bagaimana
sebuah kalkulator bekerja?" Pendeknya,
untuk mengembangkan suatu teori belajar,
kita tak harus mengetahui seluk beluk kerja otak kita sampai ke detil-detilnya.
PENUTUP
Demikianlah
uraian singkat tentang empat teori belajar. Selain
keempat teori di atas, tentu masih ada teori-teori lain yang dikembangkan para ahli. Namun, empat teori tersebut kita
pilih karena keempafiya adalah teori belajar yang paling sering dibahas dan dipraktekkan orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar