Minggu, 26 Agustus 2012


SEKILAS TENTANG TEORI BELAJAR

PENDAHULUAN

Titik fokus yang menjadi pusat perhatian suatu teori selalu ada. Ada yang lebih mementingkan proses belajar, ada yang lebih mementingkan sistem informasi yang diolah dalam proses belajar, dan lain-lain. Namun, faktor-faktor lain di luar titik fokus itu juga selalu diperlukan untuk menjelaskan seluruh persoalan belajar yang dibahas. Konsekuensi lain, taksonomi (penggolongan) teori-teori tentang belajar seringkali bervariasi antara penulis satu dengan lainnya. Ada yang mengelompokkan teori belajar menurut berbagai aliran psikologi yang mempengaruhi teori­teori tersebut. Ada pula yang mengelompokkannya menurut titik fokus dari teori-teori tersebut. Bahkan ada yang menggolong-golongkan teori belajar menurut nama-nama ahli yang mengembangkan teori-teori itu. Tak jadi soal benar taksonomi mana yang kita ikuti. Yang penting kita menyadari bahwa sebuah taksonomi adalah tak lebih dari suatu usaha untuk menyederhanakan permasalahan serta mempermudah pembahasannya.

Sekedar untuk mempermudah pemahaman kita, di bagian akhir dari bab ini akan disajikan suatu ringkasan isi dari pembahasan teori belajar yang akan kita jelaskan berikut ini. Dalam ringkasan tersebut juga diberikan gambaran singkat tentang aplikasi setiap teori belajar di dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Dalam hal ini, secara umum, semua teori belajar dapat kita kelompokkan menjadi empat golongan atau aliran, yaitu aliran tingkah laku, kognitif, humanistik, dan sibernetik. Aliran tingkah laku menekankan pada "hasil" dari proses belajar. Aliran kognitif menekankan pada "proses" belajar. Aliran humanis menekankan pada "isi" atau apa yang dipelajari dan aliran sibemetik menekankan pada "sistem informasi" yang dipelajari. Kita kaji keempat teori ini satu per satu.



PEMBAHASAN

A. Aliran Tingkah Laku

Menurut aliran tingkah laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau lebih tepat: perubahan yang dialami mahasiswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Meskipun semua penganut aliran ini setuju dengan premis dasar ini, namun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal penting. Berikut ini kita kaji hasil karya dari beberapa penganut aliran ini yang paling penting, yaitu Thomdike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner.


1. Thorndike

Menurut Thomdike (salah satu pendiri aliran tingkah laku), belajar adalah proses interaksi antara Stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan Respon (yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya, menurut Thomdike, perubahan tingkah laku itu boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang non-konkret (tidak dapat diamati). Meskipun Thomdike tidak menjelaskan bagaimana caranya mengukur berbagai tingkah laku yang non-konkret itu (pengukuran adalah satu hal yang menjadi obsesi semua penganut aliran tingkah laku), tetapi teori Thomdike ini telah banyak memberikan inspirasi kepada pakar lain yang datang sesudahnya. Teori Thomdike ini juga disebut sebagai aliran "Koneksionis" (Connectionism).

2. Watson

Namun menurut Watson, pelopor lain yang datang sesudah Thomdike, stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang "dapat diamati" (observable). Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak mahasiswa tidak penting. Semua itu penting. Tapi, faktor-faktor tersebut tidak dapat menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Hanya dengan asumsi demikianlah, kata Watson, kita dapat meramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada mahasiswa. Hanya dengan demikianlah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik. Kita lihat di sini, penganut aliran tingkah laku lebih senang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak dapat diukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting. Teori Watson ini juga disebut sebagai aliran Tingkah Laku (Behaviorism). Tiga pakar lain adalah Clark Hull, Edwin Guthrie, dan B. F. Skinner. Seperti kedua pakar terdahulu, ketiga orang yang terakhir ini juga menggunakan variabel Stimulus-Respon untuk menjelaskan teori-teori mereka. Namun, meskipun ketiga pakar ini mendapat julukan yang sama, yaitu pendiri Aliran Tingkah Laku Baru (Neo Behaviorist), mereka berbeda satu sama lain dalam beberapa hal prinsipil.

3. Clark Hull

Clark Hull sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti dalam teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup. Karena itu, dalam teori Hull, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. Stimulus hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini, meskipun respon mungkin bermacam-macam bentuknya. Teori ini, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya, temyata tidak banyak digunakan dalam dunia praktis, meskipun sering digunakan dalam berbagai eksperimen dalam laboratorium.

4. Edwin Guthrie

Menurut Edwin Guthrie, stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis. Hal penting dalam teori Guthrie adalah, bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara. Karena itu, diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan itu menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) bila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. Itulah sebabnya mengapa kebiasaan merokok (sekedar contoh), sulit ditinggalkan. Seringkali terjadi, perbuatan merokok tidak hanya berhubungan dengan satu macam stimulus (misalnya kenikmatan merokok), tetapi juga dengan stimulus-stimulus lain seperti minum kopi, berkumpul dengan teman-teman, ingin nampak gagah, dan lain-lain. Maka, setiap kali salah satu (atau lebih) stimulus ini muncul, maka segera pula keinginan merokok itu timbul. Guthrie juga percaya bahwa "hukuman" memegang peran penting dalam proses belajar. Menurut Guthrie, suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu merubah kebiasaan seseorang. Kelak, faktor hukuman ini tak lagi dominan dalam teori-teori tingkah laku, terutama setelah Skinner makin mempopulerkan ide tentang "penguat" (reinforcement).

5. Skinner

Skinner, yang datang kemudian, mempunyai pendapat lain lagi, yang temyata mampu mengalahkan pamor teori-­teori Hull dan Guthrie. Hal ini mungkin karena kemampuan Skinner dalam "menyederhanakan" kerumitan teorinya serta menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam teorinya itu. Menurut Skinner, deskripsi hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson tersebut di atas adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respon yang diberikan oleh mahasiswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasamya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini akhimya mempengaruhi respon yang dihasilkan tersebut. Sedangkan respon yang diberikan ini juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku mahasiswa. Karena itu, untuk memahami tingkah laku mahasiswa secara tuntas, kita harus memahami hubungan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respon tersebut (lihat Bell-Gredler, 1986).

Skinner juga menjelaskan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab "alat" itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa "seorang mahasiswa berprestasi buruk sebab mahasiswa ini mengalami frustrasi" akan menuntut kita untuk menjelaskan "apa itu frustrasi". Dan penjelasan tentang frustrasi ini besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain, begitu seterusnya. Dari semua pendukung teori tingkah laku, mungkin teori Skinner-lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar. Beberapa program pembelajaran seperti Teaching Machine, Mathematics, atau program-program lain yang memakai konsep stimulus, respon, dan faktor "penguat" (reinforcement), adalah contoh­-contoh program yang memanfaatkan teori Skinner ini.

6. Kritik Terhadap Teori Tingkah Laku

Namun, sudah terang bahwa teori tingkah laku ini tidak bebas dari kritik. Teori tingkah laku ini dikritik karena sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal di dunia pendidikan yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Kita ambil contoh, suatu saat, seorang mahasiswa mau belajar giat setelah diberi stimulus tertentu: Tetapi karena satu dan lain hal, mahasiswa tersebut tiba-tiba tidak mau belajar lagi, padahal kepadanya sudah diberikan stimulus yang sama atau yang lebih baik dari itu. Di sinilah persoalannya. Ternyata teori tingkah laku ini dianggap tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon tersebut. Tentu saja kita dapat mengganti stimulus dengan stimulus lain sampai kita mendapatkan respon yang kita inginkan. Tetapi kita tahu hal ini belum menjawab pertanyaan yang sebenamya. Di samping itu, teori belajar ini dianggap cenderung mengarahkan mahasiswa untuk berpikir linier, konvergen, dan tidak kreatif. Dengan prosesnya yang disebut "pembentukan" (shaping), misalnya, mahasiswa digiring untuk sampai ke suatu target tertentu, padahal banyak hal dalam hidup ini yang tidak sesederhana itu. Skinner dan ahli­-ahli lain penyokong teori ini memang tidak menganjurkan adanya "hukuman" digunakan dalarn proses belajar. Tetapi apa yang mereka sebut "penguat negatif" (negative reinforcement) cenderung membatasi keleluasaan mahasiswa untuk berimajinasi dan berpikir.

Kita ingat kembali, bahwa menurut Guthrie, "hukuman" memegang peranan penting dalam proses belajar. Skinner tidak percaya pada asumsi Guthrie ini karena tiga alasan. Pertama, pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. Kedua, dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. Ketiga, hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari "hukuman". Dengan kata lain, "hukuman" dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan pertama yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Ini tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaan tersebut adalah, bila hukuman harus "diberikan" (sebagai stimulus) agar respon yang timbul berbeda dari biasanya ada, sedangkan "penguat negatif" (sebagai stimulus) harus "dikurangi" agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang mahasiswa perlu "dihukum" untuk suatu kesalahan yang dibuatnya (teori Guthrie). Jika mahasiswa masih bandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi, jika sesuatu yang tidak mengenakkan si mahasiswa itu dikurangi (bukan malah ditambah), dan pengurangan ini mendorong mahasiswa itu untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut "penguat negatif" (teori Skinner). Lawan dari penguat negatif adalah "penguat positif" (positive reinforcement). Keduanya bertujuan memperkuat respon. Namun bila penguat positif harus "ditambah", maka penguat negatif harus "dikurang" agar memperkuat respon.


B. Aliran Kognitif

Teori kognitif, sebaliknya, lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat erat berhubungan dengan teori sibemetik. Pada masa-masa awal mulai diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana mahasiswa mengolah stimulus dan bagaimana mahasiswa tersebut dapat sampai ke respon tertentu (pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat di sini). Namun lambat laun, perhatian tersebut mulai bergeser. Saat ini, perhatian mereka terpusat pada proses bagaimana suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh mahasiswa.

Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah dan melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan musik, ia tidak memahami not­-not balok yang terpampang di partitur sebagai informasi yang saling lepas berdiri sendiri, tapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk ke pikiran dan perasaannya. Seperti juga ketika Anda membaca tulisan ini, bukan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah yang Anda serap dan kunyah dalam pikiran, tetapi adalah kata, kalimat, paragraf yang kesemuanya itu seolah jadi satu, mengalir, menyerbu secara total bersamaan. Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam "tahap-­tahap perkembangan" yang diusulkan oleh Jean Piaget, "belajar bermakna"-nya Ausubel, dan "belajar penemuan secara bebas" (free discovery learning) oleh Jerome Bruner.

1.    Piaget

Menurut Jean Piaget (salah satu penganut aliran kognitif yang kuat), proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak mahasiswa. Proses akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Proses equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Katakanlah seorang mahasiswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan. Jika dosennya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada di benak mahasiswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru), inilah yang disebut proses asimilasi. Jika mahasiswa ini diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, yang dalam hal ini berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar mahasiswa tersebut dapat terus mengembangkan dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan. Proses inilah yang disebut equilibrasi --proses penyeimbangan antara "dunia luar" dan "dunia dalam".- Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized). Dalam hal ini, dua orang yang mempunyai jumlah informasi yang sama di otaknya mungkin mempunyai kemampuan equilibrasi yang berbeda. Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu "menata" berbagai informasi ini dalam urutan yang baik, jemih, logis. Sedangkan rekannya yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi sebaik itu akan cenderung menyimpan semua informasi yang ada secara kurang teratur, karena itu orang ini juga cenderung mempunyai alur berpikir ruwet, tidak logis, berbelit-belit.

Menurut Piaget, proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui mahasiswa, yang dalam hal ini Piaget membaginya menjadi empat tahap, yaitu tahap Sensorimotor (ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun), tahap Praoperasional (2/3 sampai 7/8 tahun), tahap Operasional Konkret (7/8 sampai 12/14 tahun), dan tahap Operasional Formal (14 tahun atau lebih). Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu berbeda dengan proses belajar yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional), dan berbeda pula dengan apa yang dialami anak lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berpikimya. Dengan demikian, dosen seyogyanya memahami tahap-tahap perkembangan mahasiswa, serta memberikan materi pelajaran dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Dosen yang mengajar tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan cenderung menyulitkan mahasiswanya. Misalnya saja, mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Pancasila kepada sekelompok mahasiswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk j`mengkonkretkan" konsep-konsep tersebut, tidak hanya akan percuma, tetapi justru akan lebih membingungkan anak didik.

2. Ausubel

Menurut Ausubel, mahasiswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut "pengatur kemajuan (belajar)" (Advance Organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada mahasiswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada mahasiswa. Ausubel percaya bahwa "advance organizers" dapat memberikan tiga macam manfaat, yakni: 1.) dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk   materi pelajaran yang akan dipelajari oleh mahasiswa; 2.) dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari mahasiswa "saat ini" dengan apa yang "akan" dipelajari; sedemikian rupa sehingga mampu membantu mahasiswa belajar secara lebih mudah.

Untuk itu, pengetahuan dosen terhadap isi mata pelajaran harus sangat baik. Hanya dengan demikian seorang dosen akan mampu menemukan informasi, yang menurut Ausubel "sangat abstrak, umum, dan inklusif", yang mewadahi apa yang akan diajarkan itu. Selain itu, logika berpikir dosen juga dituntut sebaik mungkin. Tanpa memiliki logika berpikir yang baik, maka dosen akan kesulitan memilah-milah materi pelajaran, merumus-kannya dalam rumusan yang singkat dan padat, serta mendosentkan materi untuk memahami bahan demi materi itu ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami.

3. Brunner

Brunner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya. Dengan kata lain, mahasiswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep "kejujuran", misalnya, mahasiswa tidak semata-mata "menghafal" definisi kata "kejujuran" tersebut, melainkan dengan mempelajari contoh-contoh konkret tentang kejujuran, dan dari contoh-contoh itulah mahasiswa dibimbing untuk mendefinisikan kata "kejujuran". Lawan dari pendekatan ini disebut "belajar ekspositori" (belajar dengan cara menjelaskan). Dalam hal ini, mahasiswa disodori sebuah informasi umum dan diminta untuk menjelaskan informasi tersebut melalui contoh-contoh khusus dan konkret. Dalam contoh di atas, maka mahasiswa pertama-tama diberi definisi tentang "kejujuran", dan dari definisi itulah mahasiswa diminta untuk mencari contoh­contoh konkret yang dapat menggambarkan makna kata tersebut. Proses belajar ini jelas berjalan secara deduktif.

4. Kritik Terhadap Teori Kognitif

Teori kognitif, terutama teori yang dikembangkan oleh Piaget, sering dikritik karena sukar dipraktekkan (terutama di tingkat-tingkat lanjut). Selain itu, beberapa konsep tertentu (seperti intelejensia, belajar, atau pengetahuan) yang mendasari teori ini sukar dipahami, dan pemahaman itu sendiri pun masih belum tuntas.


C. Aliran Humanistik

Teori jenis ketiga adalah teori humanistik. Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya "isi" dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang biasa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk "memanusiakan manusia" (mencapai aktualisasi diri, dan sebagainya itu) dapat tercapai. Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh ausubel ang disebut "belajar bermakna" atau Meaningful Learning. Sebagai catatan, teori Ausubel ini juga dimasukkan ke dalam aliran Kognitif. Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk Taksonomi Bloom yang terkenal itu. Selain itu, empat pakar lain yang juga termasuk ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey dan Mumford, serta  habermas.

1. Bloom dan Krathwohl

Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh mahasiswa, yang tercakup dalam tiga kawasan, yaitu:
a. Kognitif, yang terdiri dari enam tingkatan:
  • Pengetahuan (mengingat, menghafal);
  • Pemahaman (menginterpretasikan);
  • Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah);
  • Analisis  (menjabarkan suatu konsep);
  • Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
  • Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, dan sebagainya).

b. Psikomotor, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Peniruan (menirukan gerak);
  • Penggunaan (menggunakan konsep untuk melaku­kan gerak);
  • Ketepatan (melakukan gerak dengan benar);
  • Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar);
  • Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).

c. Afektif, yang terdiri dari lima tingkatan:
  • Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu);
  • Merespon (aktif berpartisipasi);
  • Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai­-nilai tertentu);
  • Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai­-nilai yang dipercayai);
  • Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).

Taksonomi Bloom, seperti yang telah kita ketahui, berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur. Dari beberapa taksonomi belajar, mungkin taksonomi Bloom inilah yang paling populer (setidaknya di Indonesia).

Selain itu, teori Bloom ini juga banyak dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.

2. Kolb

Sementara itu, seorang ahli lain yang bernama Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat, yaitu:
1.   Pengalaman Konkrit
2.   Pengamatan aktif dan reflektif
3.   Konseptualisasi
4.   Eksperimentasi aktif, ide, dan metode.
 

Pada tahap paling dini dalam proses belajar, seorang mahasiswa hanya sekedar mampu ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakekat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu. Inilah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar. Pada tahap kedua, mahasiswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan reflektif. Pada tahap ketiga, mahasiswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau "teori" tentang sesuatu hat yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, mahasiswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun nampak berbeda-beda tetapi mempunyai landasan aturan yang sama. Pada tahap terakhir (eksperimentasi aktif), mahasiswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika, misalnya, mahasiswa tidak banyak memahami "asal-usul" sebuah rumus, tetapi ia mampu memakai rumus untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan, dan berlangsung di luar kesadaran si pelajar. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya kita mampu membuat garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam praktek peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali terjadi begitu saja, sulit kita tentukan kapan beralihnya.

3. Honey dan Mumford

Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford membuat penggolongan mahasiswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe mahasiswa, yakni aktivis, reflektor,teoris, dan pragmatis. Mahasiswa tipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun mahasiswa semacam ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Ini kadangkala identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Tetapi mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lama dalam implementasi. Mahasiswa tipe reflektor, sebaliknya, cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan, mahasiswa tipe ini cenderung konservatif, dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik-buruk suatu keputusan. Mahasiswa tipe teoris biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka biasanya juga sangat skeptis, dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.  Mahasiswa tipe pragmatis menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Teori memang penting, kata mereka. Namun bila teori tidak bisa dipraktekkan, untuk apa? Mereka tidak suka bertele-tele membahas aspek teoritis­filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekkan.

4. Habermas

Habermas percaya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, dia membagi tipe belajar menjadi tiga macam, yaitu:
1.   belajar teknis (technical learning);
2.   belajar praktis (practical learning);
3.   belajar emansipatoris (emancipatory learning).

Dalam "belajar teknis", mahasiswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu. Dalam "belajar praktis", mahasiswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara mahasiswa dengan orang-orang di sekelilingnya. Pada tahap ini, pemahaman mahasiswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu pemahaman yang kering dan terlepas kaitannnya dengan manusia. Tetapi pemahaman terhadap alam justru relevan jika dan hanya jika berkaitan dengan kepentingan manusia. Sedangkan dalam belajar emansipatoris, mahasiswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan. Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.

5. Kritik Terhadap Teori Humanistik

Teori humanistik sering dikritik karena sifatnya yang terlalu deskriptif (meskipun semua teori belajar sebenarnya bersifat deskriptif; lain dengan teori pembelajaran, atau disebut juga teori instruksional, yang lebih bersifat preskriptif). Kelemahan lain adalah sukarnya menterjemahkan teori ini ke langkah-langkah yang lebih praktis dan konkrit. Tapi, karena sifatnya yang deskriptif itulah maka teori ini seolah memberi arah proses belajar. Semua tujuan pehdidikan bersifat ideal, dan teori humanistik inilah yang menjelaskan bagaimana tujuan ideal itu seharusnya.

Seperti teori-teori belajar yang lain, teori humanistik akan sangat membantu kita memahami proses belajar serta melakukan proses belajar dalam dimensi yang lebih luas, jika kita mampu menempatkannya pada konteks yang tepat. Kalau pun teori ini sukar diterjemahkan ke dalam langkah­langkah praktis proses belajar, namun ide-ide, konsep­konsep, dan taksonomi-taksonomi yang dibahas dalam teori ini telah membantu membuka mata kita untuk lebih memahami hakikat jiwa manusia. Dan ini pada gilirannya akan membantu kita menentukan strategi belajar yang tepat secara lebih sadar dan terarah, dan tidak semata-mata tergantung pada intuisi kita.


D. Aliran Sibernatik

Teori belajar jenis keempat, mungkin yang paling baru dari semua teori belajar yang kita kenal,, teori belajar ini adalah teori sibernetik. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Sekilas, teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yang mementingkan proses. Proses memang penting dalam teori sibernetik. Namun, yang lebih penting lagi adalah "sistem informasi" yang diproses itu. Informasi inilah yang akan menentukan proses. Asumsi lain dari teori sibernetik ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua mahasiswa. Sebuah informasi mungkin akan dipelajari seorang mahasiswa dengan satu macam proses belajar, dan informasi yang sama mungkin akan dipelajari mahasiswa lain melalui proses belajar yang berbeda.

Dalam bentuknya yang lebih praktis, teori ini misalnya telah dikembangkan oleh Landa (dalam pendekatan yang disebut algoritmik dan heuristik), Pask dan Scott (dengan pembagian mahasiswa tipe menyeluruh atau wholist, dan tipe serial atau serialist), atau pendekatan-pendekatan lain yang berorientasi pada pengolahan informasi.

1. Landa

Menurut Landa, ada dua macam proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu. Kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen, menuju ke beberapa target sekaligus. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari itu atau masalah yang hendak dipecahkan (atau dalam istilah yang lebih teknis: sistem informasi yang hendak dipelajari) diketahui ciri-cirinya. Satu hal lebih tepat disajikan dalam urutan teratur, linier, sekuensial, satu hal lain lebih tepat bila disajikan dalam bentuk "terbuka" dan memberi keleluasaan kepada mahasiswa untuk berimajinasi dan berpikir. Misalnya, agar mahasiswa mampu memahami sebuah rumus matematika, mungkin akan lebih efektif jika presentasi informasi tentang rumus ini disajikan secara algoritmik. Alasannya adalah, sebuah rumus matematika biasanya mengikuti urutan tahap demi tahap yang sudah teratur dan mengarah ke satu target tertentu. Namun, untuk memahami makna suatu konsep yang luas dan banyak memiliki interpretasi (misalnya konsep "kemerdekaan"), maka akan lebih baik jika proses berpikir mahasiswa dibimbing ke arah yang "menyebar" (heuristik), dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu tidak tunggal, monoton, dogmatis, linier.

2. Pask dan Scott

Pendekatan serialis yang diusulkan oleh Pask dan Scott itu sama dengan pendekatan algoritmik. Namun, cara berpikir "menyeluruh" (Wholist) tidak sama dengan heuristik. Cara berpikir menyeluruh adalah berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke "gambaran lengkap" sebuah sistem infomlasi. Ibarat melihat lukisan, bukan detil­detil yang kita amati lebih dahulu, tapi seluruh lukisan itu sekaligus, baru sesudah itu ke bagian-bagian yang lebih kecil.
Pendekatan yang berorientasi pada pengelolaan informasi menekankan beberapa hal seperti "ingatan jangka pendek" (short term memory), "ingatan jangka panjang" (long term memory), dan sebagainya, yang berhubungan dengan apa yang terjadi dalam otak kita dalam proses pengolahan informasi. Kita lihat pengaruh aliran neurobiologis sangat terasa di sini. Namun, menurut teori sibernetik ini, agar proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang perlu dipahami, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itu pun perlu diketahui.

3. Kritik Terhadap Teori Sibernetik

Teori sibernetik dikritik, sebab tidak membahas proses belajar secara langsung sehingga hal ini menyulitkan penerapannya. Karena alasan ini pula, maka kita mendapat kesulitan untuk menggolongkan, apakah teori sibernetik ini lebih dekat ke teori konformis, atau ke teori liberal. Jika teori humanis lebih dekat ke dunia filsafat, teori sibernetik ini lebih dekat ke psikologi dan'informasi. Selain itu, pemahaman kita terhadap mekanisme kerja otak yang masih terbatas mengakibatkan pengetahuan kita tentang bagaimana informasi itu diolah juga menjadi sangat terbatas. Karena alasan ini pula, maka banyak pakar mendapat ilham untuk (makin) mengembangkan teori kognitif. Jika teori sibernetik lebih tertarik kepada kerja otak. Teori kognitif lebih tertarik kepada hasil kerja otak itu. Seperti kata seorang pakar kognitif: "untuk menemukan perhitungan akar 437, misalnya, apakah kita perlu tahu lebih dahulu bagaimana sebuah kalkulator bekerja?" Pendeknya, untuk mengembangkan suatu teori belajar, kita tak harus mengetahui seluk beluk kerja otak kita sampai ke detil-detilnya.

PENUTUP

Demikianlah uraian singkat tentang empat teori belajar. Selain keempat teori di atas, tentu masih ada teori-teori lain yang dikembangkan para ahli. Namun, empat teori tersebut kita pilih karena keempafiya adalah teori belajar yang paling sering dibahas dan dipraktekkan orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar