TERHAMBATNYA
PERKEMBANGAN ILMU DITINJAU DARI TEOLOGI DAN KEKUASAAN
1.
Pendahuluan
Manusia
adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara
sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini
terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan pengetahuannya
mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup, dia memikirkan hal-hal baru,
menjelajahi ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup
namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, menusia memberi makna
kepada kehidupan, manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya dan masih banyak
lagi pernyataan semacam ini. Semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa
manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari
sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan
pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi
makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan
ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni :
1. Manusia mempunyai bahasa yang mampu
mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi
tersebut. Bahasa juga dapat mengembangkan ilmu ekonomi yang pertama sekali
dilakukan manusia adalah dengan melakukan barter (menukar barang dengan barang)
2. Kemampuan berpikir menurut suatu alur
kerangka berpikir tertentu mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan
mantap. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.
Berpikir
merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang
disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan
proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun juga
berbeda-beda. Penalaran merupakan suatu proses menemukan kebenaran dimana
tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria keberannya masing-masing yaitu :
Ø Suatu pola berpikir yang secara luas dapat
disebut logika (berpikir logis). Kegiatan berpikir bisa disebut logis ditinjau
dari suatu logika tertentu dan mungkin tidak logis bila ditinjau dari sudut
logika yang lain.
Ø Sifat analitik dari proses berpikirnya.
Tanpa ada pola berpikir maka tidak akan
ada kegiatan analisi, sebab analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan
berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Sumber dari
segala pengetahuan adalah meraguakan segala sesuatu yang benar. Agama merupakan
pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman,
namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedental seperti latar
belakang penciptaan manusia dan hari kemudian diakhirat nanti. Pengetahuan ini
didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal gaib. Kepercayaan kepada Tuhan yang
merupakan sumber pengetauhan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan
kepercayaan kepada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari
penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama.
Suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk dapat diterima, pernyaan ini bisa
saja selanjutnya dikaji dengan metode lain. Secara rasional bisa dikaji
umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya bersifat
konsisten atau tidak. Di pihak lain, secara empiris bisa dikumpulkan
fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut atau tidak. Singkatnya, agama
dimulai dengan rasa percaya dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu
bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain, seperti umpamanya, bertitik
tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya dan setelah melalui
proses pengkajian ilmiah kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula.
Perkembangan ilmu tidak terlepas dari kebebasan untuk berpikir, yang ditulis
dalam buku Tractatus Theologico-politicus
dari Spinoza yang sangat penting dalam perkembangan sejarah filsafat barat.
Dalam tulisan ini disajikan “tafsir bebas” dari Kitab Suci (untuk
memperlihatkan bahwa Kitab Suci tidak dapat dipakai untuk pembenaran politik
konservatif). Namun kecuali sebuah traktat tentang tafsir, tulisan ini juga
merupakan traktat tentang kebebasan politik. Dalam bidang tindakan seluruh kekuasaan
itu hanya untuk pemerintah, tetapi dalam bidang berpikir dan berbicara semua
anggota masyarakat mempunyai kebebasan penuh. Setiap orang bebas untuk memberi
opininya tentang politik dan agama. Hanya dia tidak pernah boleh bertindak
melawan politik pemerintah, supaya ketenangan (syarat mutlak untuk kebebasan
semua anggota masyarakat) tidak diganggu. Secara ini terjadi suatu keseimbangan
kekuasaan eksekutif itu untuk pemerintah, tetapi bidang berpikir, berbicara dan
agama itu sama sekali bebas.
Menurut
Beerling, dkk (1996:6-7) secara spesifik ada tiga macam pengenalan dari
pengetahuan yang disebut ilmiah :
1. pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang
mempunyai dasar pembenaran. Setiap pengetahuan ilmiah harus punya dasar
pembenaran berdasarkan pemahaman-pemahaman yang dapat dibenarkan secara apriori serta secara empiris melalui
penyelidikan ilmiah yang memadai
2. pengetahuan ilmiah bersifat sistematis.
Penyelidikan ilmiah tidak membatasi diri hanya pada satu bahan saja, tetapi
senantiasa mencari hubungan dengan sejumlah bahan lainnya dan berusaha agar
hubungan-hubungan itu merupakan suatu kebulatan.
3. pengetauan ilmiah itu adalah bersifat
inter-subjektif. Kepastian pengetahuan ilmiah tidak didasarkan atas
intuisi-intuisi serta pemahaman orang perorang yang subjektif, melainkan
dijamin oleh sistemnya sendiri. Pengetahuan haruslah sedemikian rupa sehingga
dalam setiap bagiannya dan dalam bagian yang menyeluruh dapat ditanggapi oleh
subjek-subjek lain. Terhadap hasil penyelidikan dimungkinkan ada kesepakatan
yang bersifat inter-subjektif. Perlu ditambahkan juga bahwa dasar-dasar
pengetahuan itu tidak lepas dari perasn pengalaman, ingatan, kesaksian, minat
dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa dan kebutuhan dan
hidup manusia.
2.
Ilmu, Filsafat dan Agama
Menghadapi seluruh
kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu
apakah ia ditipu oleh panca-indranya, dan mulai menyadari keterbatasannya.
Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan karena keterbatasan manusia
akan teka-teki dunia ini maka akal pikiran manusia pada ujungnya kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Apabila kita pertanyakan suatu hal dan kita pikirkan maka kita
akan mendapatkan suatu jabawan tetapi dari jawaban tersebut kita akan
mendapatkan kembali suatu pertanyaan baru dan begitu selanjutnya sampai pada
akhirnya kita mati tidak mendapatkan ujung dari jawaban tersebut kecuali Tuhan.
Manusia
mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi
sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu sekarang pun rahasia tersebut
menggelisahkan hati manusia secara mendalam yaitu apa makna dan tujuan hidup
kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula apa tujuan derita, maka
kiranya jalan untuk mencapai kebahagian sejati, apa itu kematian, apa
pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak
terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita.
Proses
terbentuknya agama pantas disebut sebagai pendekatan dari bawah. Inisiatif
seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di
dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan
menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan dari atas nyata
pada agama-agama samawi : Allah mengambil inisiatif mewahyukan kehendakNya
kepada manusia, dan oleh karena itu iman adadalah tanggapan manusia atas
“sapaan” Allah itu.
Kesimpulannya
akibat dari segala pertanyaan dalam hati kita yang tidak bisa terungkapkan oleh
akal pikiran itu yang membuat ilmu pengetahuan kita kurang bahkan tidak
berkembang. Ilmu pengetahuan berkembang sejalan dengan perkembangan jaman.
Berkembangnya pengetahuan tidak sejalan dengan ilmu theologi. Apabila ilmu
pengetahuan berkembang maka kita akan melanggar perkataan yang ada di dalam
agama. Berkembangnya ilmu kedokteran pasti melanggar ajaran yang ada di dalam
keagamaan. Contohnya, ilmu kedokteran yaitu ilmu bedah bagian dalam. Sebelum
kita mengetahui ilmu tersebut pastilah kita terlebih dahulu belajar membedah
mayat manusia dan menemukan segala pengetahuan yang ada di dalamnya. Tetapi
agama berkata lain apabila kita membedah mayat, hal tersebut meruapan dosa dan
akibat dosa adalah maut. Sedikit banyaknya agama dapat menghambat perkembangan
ilmu pengetahuan, tetapi agama juga bisa membuat hati manusia menjadi tenang
yaitu menjawab segala pertanyaan kita yang tidak dapat dipikirkan oleh akal
sehat. Ilmu pengetahuan juga bisa membuat manusia hilang akal pikirannya (gila)
karena tidak menemukan jawaban yang dipertanyakannya tetapi agama menjawab
segalanya dengan merumuskan bahwa Tuhan adalah pencipta.
Sebagai
ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi
karena ingin memahami imannya dengan cara yang lebih baik dan ingin
mempertanggung jawabkannya yaitu “aku tahu kepada sipa aku percaya”. Teologi
bukan agama dan tidak sama dengan ajaran agama. Dalam teologi adanya unsur
“intellectus quarens fidem” (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi
sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq yang pada
gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini. Ilmu pengetahuan
tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang
berasal dari kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk
menyelidiki, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.
3.
Ilmu Pengetahuan Dan Kekuasaan
Sebenarnya
sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah agama dan
kekuasaan namun dalam perspektif yang berbeda karena pada saat itu yang menjadi
pemimpin adalah pemimpin agama. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan
teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar
mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh
ajaran agama. Secara metafisika ilmu ingin mempelari alam sebagaimana adanya,
sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada
pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar
bidang keilmuan diantaranya agama. Timbulah konflik yang bersumber pada
penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkusisi Galileo
pada tahun 1633. Galileo (1564-1642) oleh pengadilan agama tersebut dipaksa
untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Hubungan antara
ilmu pengetahuan dan kekuasaan itu telah lama ada. Di zaman prailmiah,
kekuasaan adalah milik Tuhan. Tidak banyak yang dapat dilakukan manusia dalam
kondisi yang paling baik sekalipun dan keadaan itu akan memburuk sama sekali
jika manusia terkena kemarahan Tuhan. Sebaliknya, dalam dunia ilmu pengetahuan,
semuanya berbeda. Segala sesuatu berjalan sesuai yang kita kehendaki dengan
pengetahuan tentang hukum alam. Pada abad pertengahan di Eropa gereja yang
merupakan pusat keagamaan dan ilmu pengetahuan sekaligus juga berfungsi sebagai
pusat politik dan kekuasaan. Organisasi agama ini mengembangkan tradisi
sendiri. Sekolah-sekolah biara (skolastik) didirikan di sejumlah tempat. Dapat
dikatakan bahwa kekuasaan politik gereja sangat efektif, sehingga akhirnya berhasil
memaksakan penguasa Romawi menerima kristen sebagai agama resmi di seluruh
imperium Romawi yang hancur karena berbagai pemberontakan. Kekuasaan gereja ini
akhirnya berhasil mendominasi perjalanan filsafat dan berbagai ilmu. Pada masa
ini berbagai universitas berdiri di berbagai kota besar di Eropa. Kurikulumnya
pun harus direstui gereja terlebih dahulu.
Ketika
unsur kekuasaan menjadi begitu mengakar pada ilmu pengetahuan, pengetahuan dan
ilmuwannya menjadi semacam rezim. Segala sesuatu harus tunduk pada penguasa.
Rezim yang terbentuk sering kali sulit menghindari ungkapan klasik dari Lord
Acton “kekuasaan cenderung merusak dan kekuasaan yang mutlak benar-benar
merusak”. Hasil pengetahuan dalam bidang komunikasi dan informasi telah
digunakan untuk membelokkan informasi sesuai kepentingan politik dan kekuasaan,
siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Jika ilmu adalah
kekuasaan maka teknologi merupakan alat kekuasaan.
Kalaw
dilihat pada saat ini pada bangsa kita secara tidak sadar kolonialisasi
pendidikan saat ini sedang menggoroki bangsa, kelompok maupun individu dari
masyarakat kita yaitu masyarakat yang bergantung dari bangsa, kelompok dan
individu lain. Ilmu pengetahuan dalam konteks ini, dilihat sebagai seperangkat
keyakinan dan nilai-nilai tertentu yang digunakan untuk memberi
legitimasi-legitimasi tertentu, terutama berkaitan dengan munculnya konsep
“kekuasaan” yang tidak bisa dihindari dari ilmu pengetahuan. Secara umum kita
bisa mengkategorisasi “modus operandi” pengaruh penguasa terhadap ilmu
pengetahuan ke dalam dua cara, hal ini sekaligus memiliki korelasi erat dengan
kebebasan akademik yaitu
1. secara melembaga, yakni tidak adanya
kebebasan pendidikan tinggi untuk tidak dicampuri oleh kekuasaan luar
2. secara perorangan, yakni menyangkut
kebebasan seseorang di dalam universitas untuk belajar, mengajar dan
melaksanakan penelitian serta mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan
kagiatan tersebut tanpa ada pembatasan kecuali dari dirinya sendiri.
Namun peran ilmuwan dan kaum
intelektual sebagai pengendali dan agen perubahan ternyata juga dikuasai
kepentingan kekuasaan. Mereka yang awalnya melontarkan berbagai gagasan kritis
akhirnya juga ikut larut menikmati kekuasaan dan mengingkari idealismenya
sendiri. Mereka menampilkan kesan sebagai pemecah masalah, namun dalam banyak
hal lebih terlihat sebagai pembuat masalah. Hal ini menunjukkan bahwa posisi
kaum ilmuwan dan intelektual rentan dipengaruhi kepentingan penguasa, baik
penguasa negara maupun penguasa modal (uang).
Di masa
orde baru, hegemoni kekuasaan yang merusak ke perguruan tinggi berwujud ke
dalam kurikulum pelatihan P4, prajabatan, litsus, atau dalam istilah lain
seperti wawasan nusantara, Widya Mwat Yasa pedoman penghayatan dan lain-lain
yang dengan kesemuanya itu telah membentuk sikap kepatuhan, loyalitas,
pembelaan buta, dan ketakutan. Selain itu para cendikiawan kampus diawasi dalam
sebuah mekanisme dan ruang dari sebuah relasi kekuasaan. Merasa diawasi inilah
yang membuat cendikiawan kampus harus bergerilya untuk bisa melaksanakan
misinya sebagai agen perubahan. Di masa ini semua perkembangan ilmu pengetahuan
harus tunduk kepada pemerintah, setiap orang tidak boleh membantah pemerintah.
Bahkan media massa membentuk opini yang baik tentang pemerintah walaupun
kenyataan tidak seperti yang diberitakan.
Pada zaman
modern dan zaman yang multi kompleks saat ini banyak pemimpin yang berkuasa
menggunakan ilmu pengetahuan sebagai pengambil keputusan. Hal yang sulit
dihindari tentang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekuasaan. Saat seorang
berkuasa, ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan memengaruhi segala
kebijakannya. Kekuasaan sebagai kompleks strategi dinamis bisa diperankan
individu atau institusi, dan kekuasaan bekerja berdasarkan mekanisme kerja ilmu
pengetahuan yang dimiliki.
Pada masa
sekarang dalam hal teknologi kloning sudah disalahgunakan oleh penguasa, yang
dulunya teknologi kloning digunakan untuk mengkloning tumbuhan dan hewan tapi
saat ini kloning sudah digunakan untuk perkembangbiakan manusia. Kloning masih
menjadi pro dan kontra. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang
menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun
penampakannya. Jadi dengan kata lain kloning merupakan cara perkembangbiakan
makhluk hidup untuk mendapatkan individu atau anakan yang sama persis dengan
induknya tanpa melalui proses pembuahan. Kloning banyak ditentang oleh banyak
tokoh agama dan moral karena dianggap melawan takdir. Jika kloning diterapkan
manusia hal ini akan mengacaukan tatanan agama yaitu perlunya keluarga dan
perkawinan. Dengan teknologi kloning ini pemerintah bisa membuat tentara
pilihan yang digunakan untuk menghabisa musuh. Hal ini bisa saja terjadi
mengingat adanya penggunaan bom atom oleh pasukan sekutu untuk menghancurkan
Hirosima dan Nagasaki semasa perang dunia.
Kesemuanya
ini berpulang kembali kepada ilmuwan dan penguasanya, sebaiknya ilmu
pengetahuan itu jangan dibawa ke arah yang negatif dan sebaiknya pemerintah
jangan menggunakan ilmu pengetahuan itu untuk menghancurkan manusia sendiri dan
membentuk opini publik. Ilmu pengetahuan harus berkembang untuk kepentingan
manusia itu sendiri.
4.
Kesimpulan
Tanggung
jawab merupakan kewajiban menanggung, menjamin bahwa perubahan yang dilakukan
sesuai kodrat (Setiardja, 2005:54). Jadi, seorang ilmuwan yang mengadakan
penelitian harus sanggup menggunakan kebebasannya hanya untuk melakukan
kebaikan, akan berusaha untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi
kebahagiaan umat manusia, dan memperbaiki taraf hidup manusia. Demikian halnya
para penguasa harus bertanggung jawab atas pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan
tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang pada akhirnya malah akan
merugikan manusia itu sendiri. Untuk itu kita perlu merenungkan kembali secara
mendasar mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang baik
bertanggung jawab atas perubahan zaman dan bermanfaat bagi semua orang, bukan
segelintir orang atau kelompok tertentu saja. Ilmu pengetahuan adalah untuk
kemanusiaan dan bukan untuk kekuasaan. Kebenaran ilmiah itu sendiri tidaklah
bersifat mutlak, tetapi relatif. Benar pada saat ini belum tentu benar di masa
depan. Agama juga diperlukan agar pemanfaatan ilmu pengetahuan itu tidak
disalahgunakan oleh kekuasaan. Perkembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi
dengan pemahaman spiritual, karena ilmu pengetahuan sangat berkembang, bahkan
manusia dapat dibuat duplikatnya. Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah
tingkat tinggi dari perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi beberapa orang
mengatakan bahwa ini adalah akhir dari dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Jujun S Suriasumantri, “Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer” Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2007.
Drs. Uyoh Sadulloh, M.Pd, “Pengantar Filsafat
Pendidikan” Alfabeta, Bandung 2009
Harry Hamersma, “Tokoh-Tokoh Filsafat Barat
Modern” Gramedia, Jakarta, 1983
Lili Rasjidi dan Ira Thania. “Pengantar Filsafat
Hukum” Mandar Maju, Bandung 2002
http://bened3.tripod .com
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PROGRAM PASCA SARJANA
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar