Jumat, 24 Agustus 2012


TERHAMBATNYA PERKEMBANGAN ILMU DITINJAU DARI TEOLOGI DAN KEKUASAAN

1.            Pendahuluan
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup, dia memikirkan hal-hal baru, menjelajahi ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, menusia memberi makna kepada kehidupan, manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini. Semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni :
1.      Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Bahasa juga dapat mengembangkan ilmu ekonomi yang pertama sekali dilakukan manusia adalah dengan melakukan barter (menukar barang dengan barang)
2.      Kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun juga berbeda-beda. Penalaran merupakan suatu proses menemukan kebenaran dimana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria keberannya masing-masing yaitu :
Ø  Suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (berpikir logis). Kegiatan berpikir bisa disebut logis ditinjau dari suatu logika tertentu dan mungkin tidak logis bila ditinjau dari sudut logika yang lain.
Ø  Sifat analitik dari proses berpikirnya. Tanpa ada pola berpikir  maka tidak akan ada kegiatan analisi, sebab analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Sumber dari segala pengetahuan adalah meraguakan segala sesuatu yang benar. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian diakhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal gaib. Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetauhan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan kepada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk dapat diterima, pernyaan ini bisa saja selanjutnya dikaji dengan metode lain. Secara rasional bisa dikaji umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya bersifat konsisten atau tidak. Di pihak lain, secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut atau tidak. Singkatnya, agama dimulai dengan rasa percaya dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain, seperti umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula. Perkembangan ilmu tidak terlepas dari kebebasan untuk berpikir, yang ditulis dalam buku Tractatus Theologico-politicus dari Spinoza yang sangat penting dalam perkembangan sejarah filsafat barat. Dalam tulisan ini disajikan “tafsir bebas” dari Kitab Suci (untuk memperlihatkan bahwa Kitab Suci tidak dapat dipakai untuk pembenaran politik konservatif). Namun kecuali sebuah traktat tentang tafsir, tulisan ini juga merupakan traktat tentang kebebasan politik. Dalam bidang tindakan seluruh kekuasaan itu hanya untuk pemerintah, tetapi dalam bidang berpikir dan berbicara semua anggota masyarakat mempunyai kebebasan penuh. Setiap orang bebas untuk memberi opininya tentang politik dan agama. Hanya dia tidak pernah boleh bertindak melawan politik pemerintah, supaya ketenangan (syarat mutlak untuk kebebasan semua anggota masyarakat) tidak diganggu. Secara ini terjadi suatu keseimbangan kekuasaan eksekutif itu untuk pemerintah, tetapi bidang berpikir, berbicara dan agama itu sama sekali bebas.
Menurut Beerling, dkk (1996:6-7) secara spesifik ada tiga macam pengenalan dari pengetahuan yang disebut ilmiah :
1.      pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang mempunyai dasar pembenaran. Setiap pengetahuan ilmiah harus punya dasar pembenaran berdasarkan pemahaman-pemahaman yang dapat dibenarkan secara apriori serta secara empiris melalui penyelidikan ilmiah yang memadai
2.      pengetahuan ilmiah bersifat sistematis. Penyelidikan ilmiah tidak membatasi diri hanya pada satu bahan saja, tetapi senantiasa mencari hubungan dengan sejumlah bahan lainnya dan berusaha agar hubungan-hubungan itu merupakan suatu kebulatan.
3.      pengetauan ilmiah itu adalah bersifat inter-subjektif. Kepastian pengetahuan ilmiah tidak didasarkan atas intuisi-intuisi serta pemahaman orang perorang yang subjektif, melainkan dijamin oleh sistemnya sendiri. Pengetahuan haruslah sedemikian rupa sehingga dalam setiap bagiannya dan dalam bagian yang menyeluruh dapat ditanggapi oleh subjek-subjek lain. Terhadap hasil penyelidikan dimungkinkan ada kesepakatan yang bersifat inter-subjektif. Perlu ditambahkan juga bahwa dasar-dasar pengetahuan itu tidak lepas dari perasn pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa dan kebutuhan dan hidup manusia.

2.            Ilmu, Filsafat dan Agama
Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu apakah ia ditipu oleh panca-indranya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama. Dari pernyataan tersebut  dapat disimpulkan karena keterbatasan manusia akan teka-teki dunia ini maka akal pikiran manusia pada ujungnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apabila kita pertanyakan suatu hal dan kita pikirkan maka kita akan mendapatkan suatu jabawan tetapi dari jawaban tersebut kita akan mendapatkan kembali suatu pertanyaan baru dan begitu selanjutnya sampai pada akhirnya kita mati tidak mendapatkan ujung dari jawaban tersebut kecuali Tuhan.
Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam yaitu apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula apa tujuan derita, maka kiranya jalan untuk mencapai kebahagian sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita.
Proses terbentuknya agama pantas disebut sebagai pendekatan dari bawah. Inisiatif seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan dari atas nyata pada agama-agama samawi : Allah mengambil inisiatif mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adadalah tanggapan manusia atas “sapaan” Allah itu.
Kesimpulannya akibat dari segala pertanyaan dalam hati kita yang tidak bisa terungkapkan oleh akal pikiran itu yang membuat ilmu pengetahuan kita kurang bahkan tidak berkembang. Ilmu pengetahuan berkembang sejalan dengan perkembangan jaman. Berkembangnya pengetahuan tidak sejalan dengan ilmu theologi. Apabila ilmu pengetahuan berkembang maka kita akan melanggar perkataan yang ada di dalam agama. Berkembangnya ilmu kedokteran pasti melanggar ajaran yang ada di dalam keagamaan. Contohnya, ilmu kedokteran yaitu ilmu bedah bagian dalam. Sebelum kita mengetahui ilmu tersebut pastilah kita terlebih dahulu belajar membedah mayat manusia dan menemukan segala pengetahuan yang ada di dalamnya. Tetapi agama berkata lain apabila kita membedah mayat, hal tersebut meruapan dosa dan akibat dosa adalah maut. Sedikit banyaknya agama dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi agama juga bisa membuat hati manusia menjadi tenang yaitu menjawab segala pertanyaan kita yang tidak dapat dipikirkan oleh akal sehat. Ilmu pengetahuan juga bisa membuat manusia hilang akal pikirannya (gila) karena tidak menemukan jawaban yang dipertanyakannya tetapi agama menjawab segalanya dengan merumuskan bahwa Tuhan adalah pencipta.
Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara yang lebih baik dan ingin mempertanggung jawabkannya yaitu “aku tahu kepada sipa aku percaya”. Teologi bukan agama dan tidak sama dengan ajaran agama. Dalam teologi adanya unsur “intellectus quarens fidem” (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq yang pada gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini. Ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang berasal dari kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidiki, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.


3.            Ilmu Pengetahuan Dan Kekuasaan
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah agama dan kekuasaan namun dalam perspektif yang berbeda karena pada saat itu yang menjadi pemimpin adalah pemimpin agama. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. Secara metafisika ilmu ingin mempelari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan diantaranya agama. Timbulah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkusisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642) oleh pengadilan agama tersebut dipaksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan itu telah lama ada. Di zaman prailmiah, kekuasaan adalah milik Tuhan. Tidak banyak yang dapat dilakukan manusia dalam kondisi yang paling baik sekalipun dan keadaan itu akan memburuk sama sekali jika manusia terkena kemarahan Tuhan. Sebaliknya, dalam dunia ilmu pengetahuan, semuanya berbeda. Segala sesuatu berjalan sesuai yang kita kehendaki dengan pengetahuan tentang hukum alam. Pada abad pertengahan di Eropa gereja yang merupakan pusat keagamaan dan ilmu pengetahuan sekaligus juga berfungsi sebagai pusat politik dan kekuasaan. Organisasi agama ini mengembangkan tradisi sendiri. Sekolah-sekolah biara (skolastik) didirikan di sejumlah tempat. Dapat dikatakan bahwa kekuasaan politik gereja sangat efektif, sehingga akhirnya berhasil memaksakan penguasa Romawi menerima kristen sebagai agama resmi di seluruh imperium Romawi yang hancur karena berbagai pemberontakan. Kekuasaan gereja ini akhirnya berhasil mendominasi perjalanan filsafat dan berbagai ilmu. Pada masa ini berbagai universitas berdiri di berbagai kota besar di Eropa. Kurikulumnya pun harus direstui gereja terlebih dahulu.
Ketika unsur kekuasaan menjadi begitu mengakar pada ilmu pengetahuan, pengetahuan dan ilmuwannya menjadi semacam rezim. Segala sesuatu harus tunduk pada penguasa. Rezim yang terbentuk sering kali sulit menghindari ungkapan klasik dari Lord Acton “kekuasaan cenderung merusak dan kekuasaan yang mutlak benar-benar merusak”. Hasil pengetahuan dalam bidang komunikasi dan informasi telah digunakan untuk membelokkan informasi sesuai kepentingan politik dan kekuasaan, siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Jika ilmu adalah kekuasaan maka teknologi merupakan alat kekuasaan.
Kalaw dilihat pada saat ini pada bangsa kita secara tidak sadar kolonialisasi pendidikan saat ini sedang menggoroki bangsa, kelompok maupun individu dari masyarakat kita yaitu masyarakat yang bergantung dari bangsa, kelompok dan individu lain. Ilmu pengetahuan dalam konteks ini, dilihat sebagai seperangkat keyakinan dan nilai-nilai tertentu yang digunakan untuk memberi legitimasi-legitimasi tertentu, terutama berkaitan dengan munculnya konsep “kekuasaan” yang tidak bisa dihindari dari ilmu pengetahuan. Secara umum kita bisa mengkategorisasi “modus operandi” pengaruh penguasa terhadap ilmu pengetahuan ke dalam dua cara, hal ini sekaligus memiliki korelasi erat dengan kebebasan akademik yaitu
1.      secara melembaga, yakni tidak adanya kebebasan pendidikan tinggi untuk tidak dicampuri oleh kekuasaan luar
2.      secara perorangan, yakni menyangkut kebebasan seseorang di dalam universitas untuk belajar, mengajar dan melaksanakan penelitian serta mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan kagiatan tersebut tanpa ada pembatasan kecuali dari dirinya sendiri.
Namun peran ilmuwan dan kaum intelektual sebagai pengendali dan agen perubahan ternyata juga dikuasai kepentingan kekuasaan. Mereka yang awalnya melontarkan berbagai gagasan kritis akhirnya juga ikut larut menikmati kekuasaan dan mengingkari idealismenya sendiri. Mereka menampilkan kesan sebagai pemecah masalah, namun dalam banyak hal lebih terlihat sebagai pembuat masalah. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kaum ilmuwan dan intelektual rentan dipengaruhi kepentingan penguasa, baik penguasa negara maupun penguasa modal (uang).
Di masa orde baru, hegemoni kekuasaan yang merusak ke perguruan tinggi berwujud ke dalam kurikulum pelatihan P4, prajabatan, litsus, atau dalam istilah lain seperti wawasan nusantara, Widya Mwat Yasa pedoman penghayatan dan lain-lain yang dengan kesemuanya itu telah membentuk sikap kepatuhan, loyalitas, pembelaan buta, dan ketakutan. Selain itu para cendikiawan kampus diawasi dalam sebuah mekanisme dan ruang dari sebuah relasi kekuasaan. Merasa diawasi inilah yang membuat cendikiawan kampus harus bergerilya untuk bisa melaksanakan misinya sebagai agen perubahan. Di masa ini semua perkembangan ilmu pengetahuan harus tunduk kepada pemerintah, setiap orang tidak boleh membantah pemerintah. Bahkan media massa membentuk opini yang baik tentang pemerintah walaupun kenyataan tidak seperti yang diberitakan.
Pada zaman modern dan zaman yang multi kompleks saat ini banyak pemimpin yang berkuasa menggunakan ilmu pengetahuan sebagai pengambil keputusan. Hal yang sulit dihindari tentang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekuasaan. Saat seorang berkuasa, ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan memengaruhi segala kebijakannya. Kekuasaan sebagai kompleks strategi dinamis bisa diperankan individu atau institusi, dan kekuasaan bekerja berdasarkan mekanisme kerja ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Pada masa sekarang dalam hal teknologi kloning sudah disalahgunakan oleh penguasa, yang dulunya teknologi kloning digunakan untuk mengkloning tumbuhan dan hewan tapi saat ini kloning sudah digunakan untuk perkembangbiakan manusia. Kloning masih menjadi pro dan kontra. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya. Jadi dengan kata lain kloning merupakan cara perkembangbiakan makhluk hidup untuk mendapatkan individu atau anakan yang sama persis dengan induknya tanpa melalui proses pembuahan. Kloning banyak ditentang oleh banyak tokoh agama dan moral karena dianggap melawan takdir. Jika kloning diterapkan manusia hal ini akan mengacaukan tatanan agama yaitu perlunya keluarga dan perkawinan. Dengan teknologi kloning ini pemerintah bisa membuat tentara pilihan yang digunakan untuk menghabisa musuh. Hal ini bisa saja terjadi mengingat adanya penggunaan bom atom oleh pasukan sekutu untuk menghancurkan Hirosima dan Nagasaki semasa perang dunia.
Kesemuanya ini berpulang kembali kepada ilmuwan dan penguasanya, sebaiknya ilmu pengetahuan itu jangan dibawa ke arah yang negatif dan sebaiknya pemerintah jangan menggunakan ilmu pengetahuan itu untuk menghancurkan manusia sendiri dan membentuk opini publik. Ilmu pengetahuan harus berkembang untuk kepentingan manusia itu sendiri.

4.            Kesimpulan

Tanggung jawab merupakan kewajiban menanggung, menjamin bahwa perubahan yang dilakukan sesuai kodrat (Setiardja, 2005:54). Jadi, seorang ilmuwan yang mengadakan penelitian harus sanggup menggunakan kebebasannya hanya untuk melakukan kebaikan, akan berusaha untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebahagiaan umat manusia, dan memperbaiki taraf hidup manusia. Demikian halnya para penguasa harus bertanggung jawab atas pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang pada akhirnya malah akan merugikan manusia itu sendiri. Untuk itu kita perlu merenungkan kembali secara mendasar mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang baik bertanggung jawab atas perubahan zaman dan bermanfaat bagi semua orang, bukan segelintir orang atau kelompok tertentu saja. Ilmu pengetahuan adalah untuk kemanusiaan dan bukan untuk kekuasaan. Kebenaran ilmiah itu sendiri tidaklah bersifat mutlak, tetapi relatif. Benar pada saat ini belum tentu benar di masa depan. Agama juga diperlukan agar pemanfaatan ilmu pengetahuan itu tidak disalahgunakan oleh kekuasaan. Perkembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan pemahaman spiritual, karena ilmu pengetahuan sangat berkembang, bahkan manusia dapat dibuat duplikatnya. Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah tingkat tinggi dari perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah akhir dari dunia.





















DAFTAR PUSTAKA
Jujun S Suriasumantri, “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2007.


Drs. Uyoh Sadulloh, M.Pd, “Pengantar Filsafat Pendidikan” Alfabeta, Bandung 2009

Harry Hamersma, “Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern” Gramedia, Jakarta, 1983


Lili Rasjidi dan Ira Thania. “Pengantar Filsafat Hukum” Mandar Maju, Bandung 2002

http://bened3.tripod .com


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
PROGRAM PASCA SARJANA
2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar